INTERSEKSIONALITAS: Pembebasan Queer/ LGBTQIA+

Pinkwashing merujuk pada tindakan suatu entitas, misalnya negara atau organisasi, yang menggunakan hak-hak LGBTQIA+ untuk mengalihkan perhatian dari praktik-praktiknya yang negatif.

Dari klub mahasiswa hingga festival film queer hingga Parade Pride hingga halaman editorial New York Times, kehadiran bendera Israel di samping bendera pelangi telah menjadi hal yang terlalu umum, meskipun ada penolakan yang konsisten dari kelompok aktivis queer. StandWithUs, sebuah kelompok Zionis yang didirikan pada 2009, adalah salah satu pelanggar paling mengerikan dari pencampuran Zionisme dan pembebasan queer. Didukung oleh ratusan juta shekel yang dialokasikan untuk inisiatif ‘Brand Israel’ oleh Kementerian Luar Negeri Israel, kelompok ini memulai kampanye yang mencakup brosur yang menyatakan Israel sebagai “surga gay” bagi kaum queer Palestina serta iklan surat kabar yang provokatif dengan tajuk seperti “Hamas, ISIS, dan Iran membunuh kaum gay seperti saya”.

Pesan-pesan seperti itu telah dianggap sebagai ‘pinkwashing’ oleh para aktivis queer pro-Palestina; dan telah disuarakan secara luas setidaknya sejak 2010 oleh kelompok-kelompok seperti Queers Undermining Israeli Terrorism (QUIT). Dalam kasus Israel, pinkwashing dilakukan untuk menyelamatkan reputasi globalnya yang buruk sebagai agresor kolonial, dengan mengeksploitasi dan mendorong rasisme anti-Arab dan Islamofobia untuk menampilkan dirinya sebagai surga kosmopolitan yang relatif modern sekaligus meningkatkan pendapatan pariwisatanya. Artikel ini akan membahas lebih rinci bagaimana pinkwashing berfungsi dan dampak buruk yang telah dan terus terjadi pada semua warga Palestina, tetapi terutama warga queer Palestina. Artikel ini juga akan menolak gagasan, yang bahkan muncul dalam beberapa kritik terhadap pinkwashing Israel, bahwa Israel akan menjadi surga bagi kaum queer “seandainya” tidak ada pendudukan, atau bahwa Zionisme dan pembebasan kaum queer pada akhirnya dapat menjadi kompatibel.

Xaytun Ennasr, City on the hill, 2018, color pencil, pencil, crayon and ink on paper.

Latar Belakang

Meskipun pinkwashing cukup sering beroperasi sebagai strategi propaganda atau hubungan masyarakat, pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana hal itu berfungsi terkait Palestina dan orang-orang Palestina mengungkapkan bahwa pinkwashing juga merupakan manifestasi yang tak terelakkan dari sifat Zionisme yang merupakan manifestasi dari pemikiran kolonial Eropa, yang secara intrinsik homofobik dan orientalis. Seperti yang dijelaskan oleh organisasi hak-hak queer Palestina Al Qaws, “pinkwashing adalah gejalanya, penjajahan-pendudukan adalah akar penyakitnya.

Pinkwashing Israel bergantung pada anggpan bahwa Timur tetap terbelakang mengenai homoseksualitas karena menolak untuk belajar dari progresivisme Barat. Namun, seperti yang diuraikan Joseph A. Boone dalam “The Homoerotics of Orientalism”, ini mengabaikan beberapa ratus tahun sejarah ketika “Kristen Barat yang menuduh Muslim Timur bejat menyembunyikan apa yang secara halus disebutnya ‘keburukan laki-laki’ (sodomi)”.

Timur Tengah dikaitkan dengan ‘penyimpangan seksual’ dan ‘kebencongan’ yang adat istiadat dan nilai-nilainya harus tetap diwaspadai oleh orang Kristen yang baik. Gerakan-gerakan untuk membangun negara-bangsa modern di tempat yang sekarang disebut Turki dan Iran sebenarnya melihat penerapan norma-norma heteroseksual “setidaknya sebagian sebagai respons terhadap representasi Eropa tentang ‘keterbelakangan’ peradabannya dan ‘ketidakteraturan’ seksualnya”. Di Turki, “referensi yang terus terang tentang tindakan dan hasrat sesama jenis dihapuskan dari catatan sejarah dan ditekan dari ingatan kolektif atas nama modernisasi gaya Barat”, sementara “harga kemunculan Persia sebagai negara-bangsa Iran yang baru adalah gerhana resmi dari sejarahnya yang sudah lama tentang ikatan homoerotik laki-laki sebagai ‘pra-modern’ dan pengembangan heteroerotisme sebagai norma baru.” Secara keseluruhan, Barat modern secara positif dikaitkan dengan heteronormativitas yang dianggap perlu ditiru oleh Timur Tengah untuk memasuki ranah modernitas progresif.

Ada sejarah panjang dan rumit tentang tuduhan homofobik tidak hanya antara biner yang dibangun antara Timur dan Barat, tetapi juga antara, misalnya, kekhalifahan Abbasiyah dan kekaisaran Persia, dengan yang pertama menyalahkan yang terakhir karena menjadi “pengaruh gay”. Bahwa saat ini, banyak kaum konservatif Islam menggambarkan homoseksualitas sebagai penyakit menular asing atas nama pembangunan bangsa dan “keaslian budaya” adalah hasil dari hubungan historis yang disebutkan di atas. Dalam prosesnya, sejarah hubungan homoerotik di antara laki-laki yang pernah terjalin erat dalam jalinan budaya Muslim sedang dihapus dan disangkal.

Ini bukan untuk menyederhanakan cara kerja homofobia di Timur Tengah, atau menyalahkan Barat; melainkan untuk memahami bahwa penggambaran homofobia saat ini di wilayah tersebut pada kenyataannya bersifat modern (dalam arti bukan historis, dan bukan menentang “modernitas Barat”). Itu adalah hasil dari pembangunan negara-bangsa modern dan konstruksi yang menyertainya tentang “Liyan” sebagai yang lebih rendah, yang harus distigmatisasi, dieksploitasi, dan didiskriminasi.

Hal tersebut juga mengaburkan penyebaran bahasa sehari-hari tentang “represi seksual dalam Islam”, yang sering mengusik wacana HAM, queer liberal, dan feminis. Paradoks ini—yang merupakan inti dari gagasan orientalis tentang seksualitas, di mana kaum Muslim secara bersamaan hiperseksual dan terepresi secara seksual—berkontribusi kepada dehumanisasi kaum Muslim secara umum dan kekerasan seksual yang dilakukan terhadap para tahanan yang dianggap “teroris” (baik oleh AS atau Israel) secara khusus.

Yang mengarah pada bagaimana strategi diskursif tentang pemahaman rasis tentang seksualitas saat ini sedang dijadikan senjata untuk menegakkan imperialisme masa kini dan tujuan politik kolonial. Ini tentu saja termasuk proyek Zionis di Palestina, yang hanya mungkin terjadi karena proses historis di Eropa. Terkait dengan artikel ini, nilai-nilai maskulin Eropa yang sama yang menganggap kaum Muslim sebagai penyimpangan seksual juga dijadikan senjata terhadap orang-orang Yahudi dalam tindakan dan penggambaran antisemit yang menganggap pria Yahudi “kebanci-bancian”. Para pendiri Zionis kemudian bersemangat memerangi tuduhan bersejarah ini. Hal ini terwujud dalam pencampuran maskulinitas dengan tentara nasional, dengan maskulinitas dominan di Israel yang diidentifikasikan sebagai prajurit tempur Yahudi dan “dianggap sebagai lambang kewarganegaraan yang baik”. Keinginan akan maskulinitas ini sebenarnya merupakan prasyarat bagi upaya Zionis—yang kemudian akan berkembang menjadi budaya militeristik yang penuh kekerasan.

Sementara “orang Yahudi telah difeminisasi dan di-Timur-kan di Eropa, budaya Zionis juga memfeminisasi dan men-Timur-kan orang Arab Palestina asli, yang juga dianggap tidak memadai. Oleh karena itu, Israel berusaha melampaui kontradiksi antara menenangkan para pendukung Israel yang homofobik dan, katakanlah, kaum Evangelis Barat, yang merupakan mayoritas pendukung Israel di AS, sambil secara bersamaan memproyeksikan citra Israel sebagai surga kaum gay dalam konteks sekuler Barat tertentu.

Upaya untuk melampaui kontradiksi ini dapat dipahami dengan baik melalui lensa homonasionalisme. Istilah ini dicetuskan oleh Jasbir K. Puar dalam karyanya yang luar biasa Terrorist Assemblages: Homonationalism in Queer Times. Di dalamnya, ia menggambarkan homonasionalisme sebagai kerangka kerja di mana konstituen homoseksual tertentu dapat menerima dan diterima oleh agenda nasionalis, termasuk ekspansi imperial yang endemik dalam perang melawan teror. Pada dasarnya, (terutama, tetapi tidak secara eksklusif) kaum queer cisgender kulit putih dapat berasimilasi ke dalam negara, seperti dengan secara terbuka bergabung dengan tentara nasional dan menerima kombinasi chauvinisme etnis, nasionalisme agama, maskulinitas toksik, dan Islamofobia yang sangat penting bagi perang melawan teror.

Hal ini terbukti di banyak negara Barat di mana, misalnya, politisi gay naik pangkat di partai politik konservatif, semuanya yang mengartikulasikan populasi Muslim sebagai ancaman khusus bagi komunitas LGBTQIA+. Padahal, beberapa Muslim queer telah bersikeras bahwa perjuangan mereka dalam agama dan keluarga tidak jauh berbeda dari perjuangan rekan-rekan mereka yang Kristen atau Yahudi. Hak-hak kaum gay, dengan kata lain, telah diserap ke dalam apa yang disebut Puar sebagai ‘kompleks industri hak asasi manusia’, yang beroperasi melalui pengedepanan negara-negara Barat sebagai pembela hak asasi manusia dan negara-negara non-Barat (baca: Muslim) sebagai musuh mereka. Tersirat dalam kompleks ini adalah gagasan bahwa komunitas agama dan komunitas yang dirasialisasi itu lebih homofobik daripada komunitas queer kulit putih arus utama, atau bahwa kritik terhadap homofobia dalam komunitas asal seseorang dianggap lebih mendesak daripada kritik terhadap rasisme dalam komunitas queer arus utama.

Logika homonasionalisme yang mendasari strategi pinkwashing tidak sesuai dengan pembebasan queer atau penghapusan penindasan secara keseluruhan. Sebaliknya, logika ini melayani tujuan imperialis yang lebih luas, dan dengan demikian tidak dapat mencakup orang-orang queer yang dirasialisasi atau dianggap musuh negara.

Xaytun Ennasr, The mask has fallen, 2024, watercolor and ink on paper.

Pinkwashing dalam aksi

Perdana Menteri Israel Netanyahu dalam pertemuan gabungan Kongres AS menyatakan bahwa Timur Tengah adalah “wilayah tempat perempuan dirajam, kaum gay digantung, orang Kristen dianiaya. Israel menonjol. Israel berbeda.” Yang hilang dari narasi ini, tentu saja, adalah bagaimana Israel meraup keuntungan dari penganiayaan yang ia gambarkan melalui perangkat mata-mata yang digunakannya untuk menindak para pembangkang, termasuk kaum queer.

Namun, yang penting di sini adalah bagaimana “orang Arab Israel” dibicarakan, bukan diajak bicara [atau diminta bicara, atau diperhatikan ketika ia berbicara]. Demikian pula, iklan StandWithUs yang menyatakan Tel Aviv sebagai “surga gay” tidak ambil pusing dengan apa yang terbaik bagi warga Palestina. Lagipula, seperti yang ditunjukkan oleh Queers Against Israeli Apartheid (QuAIA), “tidak ada pintu merah muda di tembok apartheid”. Kaum queer Palestina, seperti semua warga Palestina, hidup di bawah kendali negara yang menganggap mereka sebagai ancaman demografis, hambatan bagi Negara Yahudi oleh dan untuk orang Yahudi. Sebagian besar warga Palestina tidak pernah menginjakkan kaki di Tel Aviv karena alasan ini, dan secara umum Israel mengutamakan etnis dan demografi di atas segalanya, termasuk kasus suaka.

Pernyataan dan iklan semacam itu dimaksudkan untuk mencapai tujuan berikut: (1) Israel dibebaskan dari kebijakan kolonial dan militernya yang telah mengakibatkan hilangnya banyak nyawa warga Palestina, (2) Israel dikontekstualisasikan oleh Timur Tengah tetapi tidak lagi berlokasi di sana; Israel harus dinilai menurut ‘standar regional’ sementara juga diperlakukan sebagai pos terdepan budaya Eropa (contohnya, keikutsertaan Israel di Eurovision dan Piala Eropa).

Sisi lain pinkwashing

Jika Israel dipuji karena dianggap begitu ‘ramah terhadap kaum queer’, itu bergantung pada orang Palestina (dan orang Arab dan Muslim pada umumnya) secara seragam disetankan sebagai homofobik. Hal ini terbukti dalam laporan yang dirilis pada 2008 oleh Proyek Israel yang memuji nilai-nilai progresif Israel. Laporan tersebut menulis, “Ada beberapa penjelasan tentang bagaimana Israel telah merangkul komunitas gay dan lesbiannya. Salah satunya adalah bahwa keluarga sebagai sebuah institusi merupakan pusat masyarakat Yahudi Israel. Oleh karena itu, orang tua lebih suka menerima anak-anak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) mereka daripada membiarkan homofobia menghancurkan persatuan keluarga.” Seperti yang dianalisis dengan sangat baik oleh Steven Salaita dalam Bab 4 dari karyanya Israel’s Dead Soul, Sexuality, Violence, and Modernity in Israel: The Paradise of Not Being Arab, tujuan dari pernyataan tersebut adalah untuk menyiratkan bahwa orang Palestina:

“tidak berorientasi pada keluarga atau toleran; mereka bersedia mengorbankan anak-anak mereka sendiri untuk keyakinan mereka yang tidak rasional, atau mereka sangat tidak rasional sehingga tidak dapat membuat pilihan seperti itu. Bahkan dalam pengagungannya terhadap keterbukaan pikiran Israel, Proyek Israel mengungkap homofobia implisitnya sendiri: homoseksualitas tidak diterima oleh orang Yahudi Israel; itu hanya ditoleransi demi kepentingan persatuan keluarga. Itu bukanlah sesuatu yang akan pernah diterima oleh orang Yahudi Israel; itu hanya menghadirkan hambatan sulit yang dengan enggan mereka abaikan.”

Mungkin lebih terbuka daripada yang dimaksudkan oleh Proyek Israel, tetapi ini menggarisbawahi bagaimana bahasa hak LGBTQIA+ dibajak demi kepentingan kebijakan luar negeri Israel dan industri pariwisata, bahkan ketika homofobia masih marak di masyarakat Israel. Ketika Kementerian Pariwisata Israel, Badan Pariwisata Tel Aviv, dan organisasi LGBT terbesar di Israel, The Agudah, bergabung bersama untuk meluncurkan TEL AVIV GAY VIBE, sebuah kampanye pariwisata daring untuk mempromosikan Tel Aviv sebagai tujuan wisata, hal itu disambut dengan komentar berikut (verbatim):

  1. Gak ada yang bisa dibanggakan. Memalukan
  2. Haredim!!!!
  3. Gay avek tapi slogannya lucu (bahasa Yiddish untuk pergi)
  4. Ya, bawa banyak AIDS
  5. Ngebut mengundang kehancuran

Penentangan terhadap Parade Pride Israel yang digembar-gemborkan juga telah mencapai titik kekerasan, dengan seorang laki-laki ultra-Ortodoks dipenjara pada 2005 karena menikam beberapa orang, kemudian melakukan hal yang sama pada 2015 setelah dibebaskan.

Seperti yang dijelaskan Sarah Schulman, “Secara keseluruhan, Israel adalah masyarakat yang sangat homofobik. Dominasi fundamentalis agama, seksisme, dan kedekatan dengan keluarga serta penindasan keluarga membuat hidup sangat sulit bagi sebagian besar orang dalam spektrum LGBT di Israel.”

Aeyal Gross, seorang profesor hukum di Universitas Tel Aviv, menjelaskan bahwa “hak-hak kaum gay pada dasarnya telah menjadi alat hubungan masyarakat,” meskipun “politisi konservatif dan terutama yang religius tetap sangat homofobik.”

Samira Saraya, salah satu pendiri Aswat, sebuah organisasi LGBTI+ untuk perempuan Palestina, lebih lanjut menjelaskan, “Jika Anda seorang pria gay Israel yang bertugas di ketentaraan, berpenampilan maskulin, bertindak ‘normal’, dan memiliki pekerjaan yang aman, maka Anda diperlakukan dengan baik. Bagi kami yang lain, keadaannya jauh lebih buruk.” Artinya, jika Anda tidak ‘mengimbangi’ identitas queer Anda dengan cara yang mendukung proyek etnonasionalis Israel vis a vis homonasionalisme, Anda menjadi semakin jauh dari batas ideal Zionis dan karenanya lebih rentan terhadap homofobia dan rasisme.

Obsesi Zionisme untuk memastikan mayoritas Yahudi disertai dengan tekanan untuk menghasilkan anak sebanyak mungkin sebagai solusi terhadap apa yang secara langsung dinyatakan oleh Zionis sebagai ‘masalah demografi’, yang menambah hambatan bagi mereka yang lebih menyukai pasangan sesama jenis. Hal ini dibuktikan oleh sarjana Israel dan aktivis hak-hak queer Amit Kama, yang telah bekerja pada survei pemerintah untuk menarik lebih banyak wisatawan gay ke Israel, padahal ia sendiri terpaksa menikahi pasangannya di luar negeri. Pernikahan gay tetap dilarang di Israel.

Hampir hilang dalam konfeti pelangi dan tuduhan homofobia Palestina atau Muslim adalah bagaimana di Israel, semua masalah perkawinan berada di bawah kendali otoritas rabi Ortodoks. Oleh karena itu, tidak ada pernikahan sipil di Israel, hanya pernikahan agama. Perwakilan Rabbinat Ortodoks mendukung undang-undang yang melarang pernikahan sipil dan pernikahan gay dengan mengutip keinginan untuk “menjamin masa depan Yahudi negara Israel” dan mencegah “asimilasi”.

Penyangkalan terhadap queer-fobia dalam masyarakat Israel berfungsi dengan memperlakukan orang Palestina “sebagai tempat bagi para Zionis queerphobic untuk memproyeksikan fantasi queerphobic mereka”, seperti yang diutarakan dalam artikel Saffo Papantonopoulou yang luar biasa, “Bahkan Orang Aneh Seperti Anda Akan Aman di Tel Aviv: Subjek Transgender, Keterikatan yang Terluka, dan Transaksi Ekonomi Zionis berdasar Rasa Syukur” (Even a Freak Like You Would Be Safe in Tel Aviv: Transgender Subjects, Wounded Attachments, and the Zionist Economy of Gratitude”). Di dalamnya, ia merinci pelecehan transfobik yang ditujukan kepadanya yang menuntutnya untuk berhenti mengkritik Israel, karena seharusnya Israel adalah satu-satunya tempat di Timur Tengah di mana ia dapat berharap untuk diperlakukan “setara dengan laki-laki atau perempuan heteroseksual” dan tidak menghadapi kekerasan yang dengan sangat baik hati mereka jelaskan secara rinci kepadanya. Dia menjelaskan bahwa pengalihan Zionis atas queerfobia mereka sendiri ke Palestina dimaksudkan untuk “memungkinkan Zionis yang fobia terhadap queer untuk mewujudkan fantasi queerfobia-nya sendiri sambil secara bersamaan menggunakan dalih peduli terhadap kaum queer.” Identifikasi Tel Aviv sebagai ramah terhadap kaum gay bahkan oleh mereka yang memendam queerfobia kemudian disajikan sebagai “hadiah bagi semua kaum queer” yang sebenarnya dimaksudkan untuk merasa bersyukur karena ‘diizinkan’ untuk berkembang atau bahkan hidup.

“Di bawah transaksi ekonomi rasa syukur Zionis, subjek transgender terus-menerus berutang kepada kapitalisme dan Barat karena mengizinkannya untuk hidup. Ruang yang dibatasi dengan tepat untuk subjek transgender dalam ideologi ini pada dasarnya terbatas pada ruang Parade Pride dan bar gay yang tidak lagi dipolitisasi, tetapi tidak pernah menjadi garis depan proyek anti-imperialisme atau anti-penjajahan. Oleh karena itu, kaum Zionis yang fobia terhadap kaum queer dapat mewariskan anugerah fobia kolonial rasisnya serta queerfobia-nya kepada kaum transgender… Saya seharusnya merasa rentan, takut, dan diserang, agar saya dapat memberikan anugerah kematian kepada orang Palestina yang konon transfobik.”

Xaytun Ennasr, Revolution is a forest that the colonist can’t burn, 2023, color pencil, pencil, and ink on paper.

Pinkwashing ‘progresif’

Pinkwashing lazim terjadi karena tidak terbatas pada mereka yang berada di pihak kanan, dengan contoh-contoh logika pinkwashing diinternalisasi dan dimuntahkan kembali bahkan oleh kelompok-kelompok yang mengaku radikal. Contoh yang tepat dari hal ini terlihat dalam tanggapan terhadap ‘”No Pride without Palestinians”, sebuah koalisi queer yang berpusat di New York City, yang berupaya memindahkan World Pride 2006 ke luar Yerusalem, dengan alasan bahwa kaum queer Palestina (dan banyak orang Arab dari negara-negara tetangga) akan dilarang dari perayaan tersebut, dan mereka yang sudah hadir berisiko mengalami pengawasan, pelecehan, dan deportasi yang lebih intensif.

OutRage!, sebuah kelompok queer Inggris, membawa plakat bertuliskan “Israel: hentikan penganiayaan Palestina! Palestina: hentikan penganiayaan kaum queer!” dan “Hentikan pembunuhan terhadap perempuan dan kaum gay demi ‘kehormatan’ di Palestina”. Pesan yang tampaknya tidak berbahaya dan benar secara politis ini, yang berasal dari komitmen kelompok tersebut untuk memprotes “Islamofobia dan homofobia”, melupakan mekanisme penindasan oleh negara kolonial-pemukim yang mempertahankan atau bahkan menciptakan kondisi untuk penyakit sosial, termasuk homofobia. Persamaan mereka tentang penindasan Israel terhadap semua orang Palestina dengan homofobia Palestina dilakukan dengan mengamini narasi negara Israel bahwa negara itu tidak “menganiaya kaum queer”, terutama di antara mereka adalah kaum queer Palestina. Lebih jauh, diterima begitu saja bahwa queerfobia adalah ancaman yang lebih mendesak bagi kaum queer Palestina daripada kolonialisme, seolah-olah keduanya dapat dipisahkan.

Pemikiran semacam inilah yang melandasi pertanyaan seorang mahasiswa Israel kepada sarjana queer Palestina Sa’ed Atshan pada sebuah panel pinkwashing mengapa dia tidak dapat masuk ke Grindr di Hebron, dan pertanyaan seorang lain tentang mengapa tidak ada klub gay di Gaza, penjara terbuka terbesar di dunia yang hampir tidak memiliki listrik atau air minum.

Seperti yang dijawab Atshan, “Apakah Grindr digunakan di antara orang Palestina atau tidak merupakan pertanyaan yang lebih penting daripada kondisi kehidupan di Hebron yang dialami orang Palestina sebagai akibat dari pendudukan Israel di sana? … Saya bingung mengapa tidak adanya klub gay di Gaza dianggap lebih keterlaluan bagi sebagian orang daripada kondisi hidup yang parah tak terkatakan di sana yang diberlakukan oleh Israel bagi orang Palestina queer dan heteroseksual.”

Pinkwashing juga mengaburkan bagaimana masyarakat yang terus-menerus diserang ditempatkan pada posisi defensif dan dengan demikian tidak dapat melakukan pekerjaan yang dibutuhkan untuk sepenuhnya memberantas penyakit sosial. Selama puluhan tahun kaum Zionis berupaya menghapus dan menyerang budaya serta identitas Palestina—menganggapnya tidak ada, tidak penting, mengancam, atau semua hal di atas. Karena itu, masyarakat Palestina secara keseluruhan telah menjadi sangat bersemangat tentang apa yang mereka anggap sebagai tradisi dan budayanya. Seperti yang dijelaskan Rima bersama Aswat, “Mayoritas masyarakat menolak perilaku dan perubahan yang ‘mengancam’ heteroseksualitas dan patriarkinya, karena dianggap sebagai ancaman terhadap kelangsungan dan keunikan budaya kita.” Meskipun pemikiran tersebut jelas tidak benar dan berbahaya, hal itu dipicu oleh kekerasan terus-menerus terhadap Palestina atas nama Zionisme dan perasaan tidak aman yang ditimbulkannya. Konsekuensi dari pemikiran ini terhadap warga Palestina sendiri terlihat jelas ketika Otoritas Palestina secara berkala menugaskan dirinya sendiri sebagai polisi moral untuk “melindungi” masyarakat Palestina agar tidak “disusupi dan dirusak oleh kaum homoseksual dan agen-agen Barat”. Ancaman Israel dan Zionisme terhadap warga Palestina ditambah dengan identifikasi queer sebagai fenomena Barat akhirnya memicu tanggapan reaksioner, yang membuat warga Palestina yang terpinggirkan lebih rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Israel sebagai penindas warga queer Palestina

<Deskripsi tentang kekerasan seksual, penyiksaan, dan queerfobia.>

Di sini penting untuk menggambarkan bagaimana Israel juga memanfaatkan homofobia dan transfobia yang dirasialisasi dalam pelecehannya terhadap warga Palestina. Ini termasuk pemerasan terhadap warga Palestina yang queer. Seorang mantan anggota korps Intelijen Israel berbagi bahwa dalam pelatihan untuk merusak privasi warga Palestina dan memanipulasi kehidupan pribadi mereka untuk kepentingan negara Israel, mereka “bahkan belajar menghafal dan menyaring kata-kata yang berbeda untuk ‘gay’, dalam bahasa Arab.”

Yang lebih mengerikan lagi, ada laporan terperinci dari warga Palestina yang dikurung di penjara Israel tentang pelecehan verbal dan seksual yang menggunakan homofobia dan transfobia sebagai ancaman. Seorang remaja 16 tahun menggambarkan seorang polisi mengatakan kepadanya, “Aku akan mengentotmu dan kamu akan bernyanyi di penisku” sebagai bagian dari ancamannya.

Pemuda 23 tahun lainnya menceritakan bagaimana seorang anggota dinas rahasia Israel berteriak, “Dasar teroris, aku akan mengentotmu seperti seorang homo!”

Sementara seorang lain dalam laporan terpisah menggambarkan dilecehkan oleh seorang interogator yang bertanya, “Apa kamu homo? Kamu kelihatan kayak perempuan. Apa kamu pernah mengentot perempuan?”

Tahanan lain menceritakan bagaimana mereka ditakuti-takuti dengan ancaman bahwa saudara laki-laki mereka akan diberikan operasi ganti kelamin tanpa persetujuannya: “Mereka menempatkan saya di ruang investigasi dengan sekat kaca dan di sisi lain saya melihat saudara laki-laki saya, diberikan pakaian seperti perempuan, tidak senonoh, dengan rok mini. […] Mereka mengatakan bahwa mereka […] telah mengatur operasi ganti kelamin untuknya di Yerusalem.”

Kasus-kasus itu tidak terisolasi, karena pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukan Israel sebagai bentuk penyiksaan terhadap warga Palestina telah terdokumentasi dengan baik. Alasan untuk ini diungkapkan bahkan dalam laporan yang menjadi sumber sebagian besar kesaksian tersebut, dengan penulis menyatakan bahwa “Penyiksaan seksual dan perlakuan buruk, termasuk ditelanjangi paksa dan umpatan dengan konten seksual, dapat memiliki efek penghinaan yang sangat dalam dan terkadang bertahan lama di kalangan laki-laki Arab. Ini didasarkan pada gagasan tentang kehormatan, yang merupakan dasar dalam kehidupan sosial di sebagian besar dunia Muslim.” Di sini penulis menganggap wajar saja bahwa laki-laki Arab dan Muslim (di sini ia menyamakan kedua istilah tersebut) lebih sensitif terhadap pelecehan dan kekerasan seksual daripada rekan-rekan mereka di Barat. Ia tampaknya, entah secara tidak sadar atau tidak, percaya bahwa para pelaku tindakan ini relatif tercerahkan alih-alih sekadar melanjutkan penggunaan kekerasan seksual terhadap laki-laki dalam konflik bersenjata dan dinamika fanatik yang terjadi bersamaan dengan emaskulasi, feminisasi, dan/atau homoseksualisasi sebagai penghinaan.

<Akhir dari deskripsi tentang kekerasan seksual, penyiksaan, dan queerfobia>

Untuk meninjau kembali Puar, paradoks di jantung gagasan orientalis tentang seksualitas tersebut dihidupkan kembali melalui objektifikasi teroris Muslim sebagai objek penyiksaan, yang konservatif secara seksual, sopan, dan takut akan ketelanjangan (dan menarik bagaimana konseptualisasi ini disampaikan secara simpatik dan sebagai masalah), serta sebagai queer, kebinatangan, barbar, dan tidak dapat mengendalikan dorongan seksualnya tetapi memiliki “ketidaksenonohan” bawaan yang menunggu untuk dilepaskan. Dalam buku Brothers and Others in Arms: The Making of Love and War in Israeli Combat Units, Danny Kaplan berpendapat bahwa seksualisasi ini tidak bersinggungan atau insidental dengan proyek penaklukan, tetapi justru menjadi pusatnya: “[Erotisasi] target musuh … memicu proses objektifikasi.”

Homofobia dan transfobia tidak hanya dijadikan senjata untuk menyudutkan orang Palestina oleh negara pelangi ajaib Israel, tetapi juga membuat orang Palestina yang queer rentan terhadap konsekuensi dari ke-queer-an yang dikaitkan dengan kolaborasi dengan penjajah, misalnya dengan memeras orang gay Palestina untuk menjadi informan. Seperti yang ditulis Al Qaws:

“Penghubungan yang meluas antara seksualitas non-normatif dan kolaborasi dengan penjajah (Israel) telah menjadi istilah dan identitas tersendiri dalam imajinasi dan realitas Palestina: isqat… hubungan palsu dengan Israel dan kolaborasi ini mengaitkan orang queer dengan pengkhianatan, ketidakjujuran, sifat tidak dapat dipercaya, dan penipuan, dan karenanya berfungsi untuk mendukung jenis ketakutan homofobik yang sangat spesifik di Palestina.”

Penggunaan homofobia dan queefobia sebagai pentungan atas nama Israel tentu saja tidak kondusif bagi pembebasan queer dan merupakan praktik yang menjijikkan. Hal itu juga harus dikontekstualisasikan dalam represi dan penindasan menyeluruh di seluruh Palestina, yang sering memeras warga Palestina karena berbagai alasan, dari kebutuhan perawatan kesehatan hingga keinginan untuk menyembunyikan perselingkuhan dalam pernikahan hingga keinginan untuk menikah dan tinggal dengan warga Palestina dengan kartu identitas berwarna berbeda. Apa pun pengalaman individu yang dialami warga Palestina dibentuk oleh cengkeraman Zionisme yang lalim.

Solidaritas, bukan apartheid merah muda

Kyle Goen, GAZA Love, Three color screen print, 2014-ongoing

Melalui pinkwashing, warga Palestina direduksi menjadi korban homofobia Palestina yang perlu diselamatkan, atau menjadi pelaku homofobia yang kejam di antara warga Palestina dan terorisme terhadap warga Israel. Mereka dipaksa untuk meniti tali antara queerfobia yang dieksploitasi oleh Israel sebagai pembenaran untuk perampasan hak-hak mereka sendiri dan cara-cara kolonialisme Zionis membentuk queerfobia yang mereka hadapi dalam komunitas mereka sendiri.

Yang dibutuhkan adalah dedikasi untuk mengakhiri semua bentuk penindasan terhadap warga Palestina. Para organisator Palestina yang queer menyerukan agar penyuaraan hak-hak LGBTQ+ Palestina dilakukan dengan cara yang menggugat perampasan dan pembajakan hak-hak tersebut sebagai senjata oleh organisasi-organisasi Israel, dan sebaliknya melibatkan diri pertama-tama dan terutama dengan warga Palestina, daripada melanggengkan penghapusan warga Palestina yang merupakan ciri khas Zionisme.

Bacaan selanjutnya

Dalacoura, Katerina. “Homosexuality as cultural battleground in the Middle East: Culture and postcolonial international theory.” Third World Quarterly 35.7, 2014: 1290-1306.

Elia, Nada. “Gay rights with a side of apartheid.” Settler Colonial Studies 2.2, 2012: 49-68.

Weaver, G. ‘Pinkwashing’: The Politics of LGBTQ Rights in Israel/Palestine. Universiteit van Leiden, 2016. [Link]

Puar, Jasbir K. Terrorist assemblages: Homonationalism in queer times. Duke University Press, 2007. [Link]

Puar, Jasbir. Israel’s gay propaganda war. The Guardian. July 1st, 2010. [Link]

Atshan, Sa’ed. Queer Palestine and the Empire of Critique. Stanford University Press, 2020.

Salaita, Steven. Israel’s dead soul. Temple University Press, 2011.

Hochberg, Gil Z. ““CHECK ME OUT” Queer Encounters in Sharif Waked’s Chic Point: Fashion for Israeli Checkpoints.” GLQ: A Journal of Lesbian and Gay Studies 16.4, 2010: 577-597.

Farris, Sara. The political economy of homonationalism. Social Text Online. October 25th, 2018. [Link]

Stelder, Mikki. “‘From the closet into the Knesset’: Zionist sexual politics and the formation of settler subjectivity.” Settler Colonial Studies 8.4, 2018: 442-463.

Hochberg, Gil Z., Haneen Maikey, and Samira Saraya. “No Pride in Occupation: A Roundtable Discussion.” GLQ: A Journal of Lesbian and Gay Studies 16.4, 2010: 599-610.

Sumber: diterjemahkan dari “Pinkwashing” oleh DecolonizePalestine.com

10 tokoh LGBTQ+ Palestinians untuk didukung, termasuk Xaytun Ennasr yang 3 karyanya ditampilkan di laman ini.