Karya Omar Moussa
Terjemahan bahasa Indonesia oleh Eliza Vitri Handayani

Putih matanya mengambil wujud terakhir,
Dan menetes dan menjelma kertas.
Dengan peluru; ia menghantam moncong pesawat tempur –
Dan mencabut tanduk-tanduk pembunuh dan penghancur.
Dengan peluru;
ia meruntuhkan perbatasan pengepungan:
dan dinding-dinding dunia yang merebahkan diri
dalam keegoisan.
Dengan peluru dan darah; ia menggambar negeri yang merdeka
dan pesisir yang panjang tanpa batas
supaya ingatan tak pernah terlena.

Omar Moussa adalah seorang penyair, jurnalis, dan anggota Masyarakat Penyair Gaza berusia 23 tahun yang tinggal di Kamp Jabalia, kamp pengungsi terbesar di Gaza. Bagi Omar, puisi adalah upaya menerjemahkan diri sendiri, memecah realitas, atau menciptakan realitas yang terpisah dari realitas yang kita jalani.
Omar percaya tidak ada cara untuk melarikan diri dari tempat seperti Gaza, bahkan dengan menulis puisi. “Jika kita melihat puisi sebagai gerbang untuk melarikan diri dari Gaza, itu akan tampak seperti kemewahan yang tidak dimiliki oleh penduduk Gaza. Realitas adalah realitas – kita tidak dapat mengabaikannya, dan menulis puisi hanyalah untuk menipu realitas ini. Di sini, ada kematian, puing-puing, dan kehidupan kecil, tetapi di tengah-tengah konkret realitas ada bunga yang tumbuh, dan itu adalah bunga puisi.”
“Jika saya ingin menyampaikan pesan kepada dunia luar, saya akan berkata: ‘Ada orang-orang yang tetap hidup meskipun ada banyak kematian di sekitar kita,’” katanya.
“Saya pikir takdirlah yang menuliskan puisi untuk saya – [apakah] itu puisi tentang kematian atau puisi tentang kehidupan, yang saya lakukan selama masa ini adalah [berusaha] bertahan hidup dari lava agresi.” Baca puisi ini dalam versi bahasa Inggris di Al Jazeera.