Karya Eman al-Astal
Terjemahan bahasa Indonesia oleh Eliza Vitri Handayani
untuk mengenang jurnalis Ismail al-Ghoul

Bilang padanya dia cahaya mataku
Bintang yang menuntun malam-malamku
Bilang padanya aku sangat kangen memeluknya
Merasakan tangannya yang mungil dan lembut di leherku
Jangan bilang tentang unicorn
Yang tak bisa aku berikan sendiri sebagai hadiah kejutan—
Bawakan padanya, dan cium matanya.
Jangan bilang tentang lapar yang menggerogotiku
Tapi belikan dia anggur dan dua butir apel
Jangan bilang kepalaku terpenggal. Jangan takuti dia.
Bilang betapa dalam aku rindu padanya.
Betapa hatiku menua tanpa dirinya.
Betapa aku menangis waktu mereka memisahkan kita.
Bagai daun di tempat dingin, jatuh sendiri
Tanpa angin yang meniupnya ke selatan.
Bilang padanya aku harus tetap di utara.
Bilang padanya aku ini penyampai kebenaran
Dan mereka takut pada penyampai kebenaran.
Mereka membungkam kata-kata kita selamanya.
Tapi aku benih, yang dikubur
Untuk mekar pada masa depannya
Dia begitu muda, permata hidupku.
Sebentar lagi dia dua tahun.
Hujani dia dengan cinta
Beri dia mahkota seorang putri
Dan bawa ke perairan yang dia cintai
Tapi jangan pernah lupa untuk menjaganya
Kalau dia rindu padaku
Janjikan padanya kita akan bertemu lagi di surga.
Cium pipinya yang kemerahan untukku
Dan selipkan fotoku di bawah bantalnya.
Kalau dia takut saat malam
Jangan biarkan dia menangis.
Dekap dia erat ke hatimu
Dan bisikkan nina bobo favoritnya
Dan katakan betapa aku cinta padanya.

Eman Al-astal adalah seorang penulis konten lepas dan penerjemah; ia menempuh pendidikan sarjana Sastra Inggris di Universitas Islam Gaza dan lulus hanya satu bulan sebelum genosida 2023 dimulai. Selama masa akademisnya, dan untuk membangun komunitasnya,
Puisi ini diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh We Are Not Numbers, inisiatif yang memberdayakan para penulis Palestina untuk memanusiakan pengalaman Palestina melampaui berita dan statistik. WANN memberi dunia akses langsung ke narasi Palestina tanpa batasan dan tanpa perantara asing yang berbicara atas nama mereka. Ini memperkuat perspektif Palestina yang secara historis telah ditekan di media arus utama.