Karya Aya Adwan
Terjemahan bahasa Indonesia oleh Eliza Vitri Handayani

Aku takkan bicara,
mulut dijahit, mata buta,
lengan dan kaki diamputasi.
Bom, peluru tank, dan rudal
boleh-boleh saja dijatuhkan di kepalaku,
tapi aku tidak berani
menjatuhkan kata-kataku
untuk membalas.
Aku ini sensitive content,
Lebih meresahkan daripada serpihan
bom buatan Amerika.
Lidahku lebih berbahaya
dari senjata paling digdaya sedunia.
Aku ini collateral damage.
Kematianku sebuah angka,
statistik di berita harian,
seonggok daging, dikumpulkan, ditimbang,
dilemparkan ke kuburan.
Aku tak punya tempat tinggal di negeri sendiri,
menancapkan tenda
di samping puing rumahku,
menggenggam harapan semu
membangun kembali yang kini runtuh.
Aku benang tanda tanya yang kusut.
Nilai hidupku tergantung, pada banyak syarat,
seakan kehadiranku pada negeri yang istimewa
membuat darahku lebih berharga ditumpahkan,
daripada darah yang sama tetap mengalir
di pembuluh nadi di tempat lain.
Atau tidak berharga sama sekali.
Aku ini anak yang kehilangan arah,
tak yakin akan tujuan selanjutnya.
Aku minta kompasku untuk menuntunku
Ke tempat yang dapat menghibur jiwaku yang remuk.
Kompasku hanya tahu satu jalur
Menuju ke kubur ibuku.
Tapi aku takkan bicara,
mulut dijahit, mata buta,
lengan dan kaki diamputasi.
Bom, peluru tank, dan rudal
boleh-boleh saja dijatuhkan di kepalaku,
Tapi awas kalau aku berani
menjatuhkan kata-kataku
untuk membalas.

Aya Adwan adalah seorang mahasiswa hukum di Universitas Antwerp. Ia lahir dan dibesarkan di Gaza, tempat ia menghabiskan 21 tahun pertama hidupnya.
“Membaca, menanam tanaman, dan berolahraga adalah hal-hal yang memotivasi saya untuk bangun dari tempat tidur setiap pagi,” katanya. “Bunga adalah sahabat saya; saya senang menghabiskan waktu merawatnya dan saya senang berada di dekat mereka setiap saat. Saya senang bepergian keliling dunia dan mengembangkan pikiran saya dengan mengenal budaya baru. Saya bercita-cita untuk membuat perubahan bagi dunia selagi saya hidup.”
Puisi ini diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh We Are Not Numbers, inisiatif yang memberdayakan para penulis Palestina untuk memanusiakan pengalaman Palestina melampaui berita dan statistik. WANN memberi dunia akses langsung ke narasi Palestina tanpa batasan dan tanpa perantara asing yang berbicara atas nama mereka. Ini memperkuat perspektif Palestina yang secara historis telah ditekan di media arus utama.