Karya Samih al-Qasim
Terjemahan bahasa Indonesia oleh Eliza Vitri Handayani

Aku mungkin saja – kalau kau mengkehendakinya – kehilangan pekerjaan
Aku mungkin jual kemeja dan tempat tidurku.
Aku mungkin bekerja sebagai tukang batu,
Penyapu jalan, kuli angkut.
Tukang bersih-bersih di tokomu
Atau mengais sampahmu mencari makan.
Aku mungkin tidur dengan perut lapar
Oh musuh matahari,
Tapi
Aku takkan melunak
Dan sampai denyut nadi yang terakhir
Aku akan melawan
Kamu bisa saja merampas petak terakhir tanahku,
Menjejalkan anak-anak mudaku ke penjara-penjaramu
Kamu bisa saja menjarah warisan budayaku
Kamu bisa saja membakar buku-bukuku, puisi-puisiku
Atau memberikan dagingku kepada anjing.
Kamu bisa saja menyebar jaring teror
Dari atap-atap desaku,
Oh musuh matahari,
Tapi
Aku takkan melunak
Dan sampai denyut nadi yang terakhir
Aku akan melawan
Kamu bisa saja memadamkan cahaya mataku.
Kamu bisa saja merampas ciuman ibuku.
Kamu bisa saja mengutuk ayahku, rakyatku.
Kamu bisa saja mengaburkan sejarahku,
Kamu bisa saja merampas senyuman anak-anakku,
Dan semua kebutuhan hidupnya.
Kamu bisa saja membodohi teman-temanku dengan wajah palsumu.
Kamu bisa saja membangun tembok kebencian di sekelilingku.
Kamu bisa saja merekatkan mataku pada penghinaan
Oh musuh matahari,
Tapi
Aku takkan melunak
Dan sampai denyut nadi yang terakhir
Aku akan melawan
Oh musuh matahari
Dekorasi dinaikkan di pelabuhan
Seru-seruan memenuhi udara,
Hati-hati bercahaya,
Dan di cakrawala
Layar mengembang
Menantang angin
Dan laut yang dalam.
Itulah Ulysses
Kembali pulang
Dari samudra kehilangan.
Itulah kembalinya matahari,
Orang-orang yang diasingkan
Dan demi dia, dan dia,
Aku bersumpah
Aku takkan melunak
Dan sampai denyut nadi yang terakhir
Aku akan melawan,
Melawan—dan melawan.

Samih al-Qasim (11 Mei 1939 – 19 Agustus 2014) adalah penyair dan penulis esai Palestina yang sangat dicintai dari desa Al Remeh di Galilea.
Versi bahasa Inggris bisa dibaca di Black Agenda Report.